Minggu, 15 Desember 2013

WHEN LOVE CAME IN LIFE

            tak ada yang tahu (kecuali author tentunya) apa yang dipikirkan gadis itu. dan sepertinya orang juga cuek dengannya. tatapannya kosong ke jalanan tapi enggak natap tiang. rambut coklatnya yang dibiarkan terurai tertiup angin dingin.
        "Fee? apa yang kau lakukan?". tanya seorang cowok tampan bernama Vein.
       "Oh, ternyata anda yang mulia". jawaban yg gak nyambung (untung aja nggak konslet) dilontarkan Fee. dengan segera ia berdiri. boleh jadi cowok yang ada didepannya adalah suaminya, tapi tetap saja di tempat ini ia harus memperhatikan tata krama.

tunggu??? suami? istri? di usia 18 tahun? sudahlah, lihat saja.

Vein hanya mngambil tempat duduk disebelah Fee lantas menyuruh istrinya itu duduk. tanpa basa-basi karna gak mau basi, Vein menenggelamkan kepala sang istri ke dada bidangnya. tangis Fee pesac laksana porselen di banting. pyarrr....
         "Sebenci itukah dirimu pada ke Fee? rasanya baru setahun kita menikah tapi mengapa kau minta cerai?" . tanya Vein berat. sungguh dia masih ingin mengomeli Fee karna keteledorannya, cemburu pada cowok yg hanya melempar pandang (bukan jepit) ke istrinya yg cantik itu.
         "justru aku melakukannya karna aku mencintaimu, Vein. you are everything for me. dan aku tak ingin tergores sekalipun karna ku. jadi lepaskanlah aku Vein".  jawab Fee terisak. ia teringat, ia bukanlah siapa-siapa disini. betul kata nyonya Fath, dia hanya anak bangsawan yang membangkang pd istana. pengkhianat. walau ia tahu kebenarannya.
          "kapan dunia akan memihak kita Fee? kau telah diterima di sini tapi mengapa? mengapa engkau harus pergi?". tanya Vein lagi. Fee mencoba tegap. segera ia hapus airmata sang suami.

               'cobalah kuat Fee'. ucapnya dalam hati.
              "sudahlah Yang Mulia. anda bisa mengunjungi saya di lain waktu bukan?". ucap Fee. ia beranjak lalu berdiri tegap. ia hapus air matanya yang masih terus mengalir.

plukk...
baru kaki Fee mau melangkah, Vein menahannya dengan pelukannya.
          " aku memang suka dirimu yg sok kuat, tapi bukan yang seperti ini. jadilah dirimu sendiri lagi, Fee. jangan buatku merasa bersalah". perintah Vein. Fee hanya memejamkan matanya  membiarkan air-air itu lolos dari tahanannya. kepalanya ia sandarkan ke bahu kanan Vein, sedangkan tangannya membelai rambut Vein.
          "dasar bodoh".

***


*haih....... gaje ya? gomen ya.... seperti yang kemarin, ini sequel masalah Kerajaan. semoga gak bosen ya....*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar