Senin, 16 Desember 2013
AMAN IN PLUVIAM#2
DUO: SANG PUTRA MAHKOTA
pagi telah tiba. surya
bersinar dengan hangat mengiringi lembaran baru yang akan tertoreh tinta
kehidupan. dan dimulai pagi inilah, satu persatu rahasia yang telah lama
terpendam di bumi Allica tersingkap.
***
Benar,
hidup Chayene sangat buruk. Bayangkan, Gen yang begitu disebalinya dan harusnya
duduk di XI A, malah duduk dikelasnya, bahkan sebangku, nempel-nempel, dan
terus mengganggunya. Jelas, guru tidak berani menegur. Siapa yang berani
menegur Putra Mahkota?.
Namun
seprtinya tidak bagi Chayene. Dia sudah diambang batas kesabaran dalam
menghadapi Gen.
“apa
yang anda lakukan disini Puta Mahkota?”. Ucap 2 orang laki-laki bersamaan.
Semuanya menoleh ke arah sumber suara. Termasuk Chayene dan Gen.
Jelas,
Sean, Robert, Ryse, dan Karen mengejar Chayene keluar. Sedang Gen masih
terhanyut dalam tunduknya.terakhir ia melihat wanita menangis adalah saat malam
terakhir ia melihat gadis itu. Dan kini, ia kembali melihat seorang gadis
kembali menagis perih di depan matanya. Sungguh, saat Chayene menangis tadi
entah mengapa ia tahu betapa sakitnya diri Chayene. Lebih sakit ketimbang rasa
sakitnya selama ini.
Namun,
entah mengapa Gen kali ini pergi. Bukan untuk menghindari kakaknya, tapi untuk
mengejar Chayene. Menantang badai yang merintanginya.
“kejarlah
sebelum kau terlambat untuk meraih Jeane kembali, Gen”. Gumam Ren dalam hati.
Sendu mulai menari pilu dalam qolbu laki-laki bermata biru ini.
Minggu, 15 Desember 2013
WHEN LOVE CAME IN LIFE
tak ada yang tahu (kecuali author tentunya) apa yang dipikirkan gadis itu. dan sepertinya orang juga cuek dengannya. tatapannya kosong ke jalanan tapi enggak natap tiang. rambut coklatnya yang dibiarkan terurai tertiup angin dingin.
"Fee? apa yang kau lakukan?". tanya seorang cowok tampan bernama Vein.
"Oh, ternyata anda yang mulia". jawaban yg gak nyambung (untung aja nggak konslet) dilontarkan Fee. dengan segera ia berdiri. boleh jadi cowok yang ada didepannya adalah suaminya, tapi tetap saja di tempat ini ia harus memperhatikan tata krama.
tunggu??? suami? istri? di usia 18 tahun? sudahlah, lihat saja.
Vein hanya mngambil tempat duduk disebelah Fee lantas menyuruh istrinya itu duduk. tanpa basa-basi karna gak mau basi, Vein menenggelamkan kepala sang istri ke dada bidangnya. tangis Fee pesac laksana porselen di banting. pyarrr....
"Sebenci itukah dirimu pada ke Fee? rasanya baru setahun kita menikah tapi mengapa kau minta cerai?" . tanya Vein berat. sungguh dia masih ingin mengomeli Fee karna keteledorannya, cemburu pada cowok yg hanya melempar pandang (bukan jepit) ke istrinya yg cantik itu.
"justru aku melakukannya karna aku mencintaimu, Vein. you are everything for me. dan aku tak ingin tergores sekalipun karna ku. jadi lepaskanlah aku Vein". jawab Fee terisak. ia teringat, ia bukanlah siapa-siapa disini. betul kata nyonya Fath, dia hanya anak bangsawan yang membangkang pd istana. pengkhianat. walau ia tahu kebenarannya.
"kapan dunia akan memihak kita Fee? kau telah diterima di sini tapi mengapa? mengapa engkau harus pergi?". tanya Vein lagi. Fee mencoba tegap. segera ia hapus airmata sang suami.
'cobalah kuat Fee'. ucapnya dalam hati.
"sudahlah Yang Mulia. anda bisa mengunjungi saya di lain waktu bukan?". ucap Fee. ia beranjak lalu berdiri tegap. ia hapus air matanya yang masih terus mengalir.
plukk...
baru kaki Fee mau melangkah, Vein menahannya dengan pelukannya.
" aku memang suka dirimu yg sok kuat, tapi bukan yang seperti ini. jadilah dirimu sendiri lagi, Fee. jangan buatku merasa bersalah". perintah Vein. Fee hanya memejamkan matanya membiarkan air-air itu lolos dari tahanannya. kepalanya ia sandarkan ke bahu kanan Vein, sedangkan tangannya membelai rambut Vein.
"dasar bodoh".
***
*haih....... gaje ya? gomen ya.... seperti yang kemarin, ini sequel masalah Kerajaan. semoga gak bosen ya....*
"Fee? apa yang kau lakukan?". tanya seorang cowok tampan bernama Vein.
"Oh, ternyata anda yang mulia". jawaban yg gak nyambung (untung aja nggak konslet) dilontarkan Fee. dengan segera ia berdiri. boleh jadi cowok yang ada didepannya adalah suaminya, tapi tetap saja di tempat ini ia harus memperhatikan tata krama.
tunggu??? suami? istri? di usia 18 tahun? sudahlah, lihat saja.
Vein hanya mngambil tempat duduk disebelah Fee lantas menyuruh istrinya itu duduk. tanpa basa-basi karna gak mau basi, Vein menenggelamkan kepala sang istri ke dada bidangnya. tangis Fee pesac laksana porselen di banting. pyarrr....
"Sebenci itukah dirimu pada ke Fee? rasanya baru setahun kita menikah tapi mengapa kau minta cerai?" . tanya Vein berat. sungguh dia masih ingin mengomeli Fee karna keteledorannya, cemburu pada cowok yg hanya melempar pandang (bukan jepit) ke istrinya yg cantik itu.
"justru aku melakukannya karna aku mencintaimu, Vein. you are everything for me. dan aku tak ingin tergores sekalipun karna ku. jadi lepaskanlah aku Vein". jawab Fee terisak. ia teringat, ia bukanlah siapa-siapa disini. betul kata nyonya Fath, dia hanya anak bangsawan yang membangkang pd istana. pengkhianat. walau ia tahu kebenarannya.
"kapan dunia akan memihak kita Fee? kau telah diterima di sini tapi mengapa? mengapa engkau harus pergi?". tanya Vein lagi. Fee mencoba tegap. segera ia hapus airmata sang suami.
'cobalah kuat Fee'. ucapnya dalam hati.
"sudahlah Yang Mulia. anda bisa mengunjungi saya di lain waktu bukan?". ucap Fee. ia beranjak lalu berdiri tegap. ia hapus air matanya yang masih terus mengalir.
plukk...
baru kaki Fee mau melangkah, Vein menahannya dengan pelukannya.
" aku memang suka dirimu yg sok kuat, tapi bukan yang seperti ini. jadilah dirimu sendiri lagi, Fee. jangan buatku merasa bersalah". perintah Vein. Fee hanya memejamkan matanya membiarkan air-air itu lolos dari tahanannya. kepalanya ia sandarkan ke bahu kanan Vein, sedangkan tangannya membelai rambut Vein.
"dasar bodoh".
***
*haih....... gaje ya? gomen ya.... seperti yang kemarin, ini sequel masalah Kerajaan. semoga gak bosen ya....*
Sabtu, 14 Desember 2013
AMANT IN PLUVIAM
UNUS: KALA HUJAN MENYAPA
Hujan sedang menghiasi langit kota White Coral. banjir dijalanan setinggi
mata kaki masih menggenang dijalanan. jalananpun tampak sepi. why? sejak hujan
ini turun, orang-orang memilih berteduh ditempat yang disediakan. memang, di
White Coral ada tempat tersendiri untuk berteduh saat hujan. di tempat itu ada
handuk dan coklat panas.
tapi, dasar si Chayene. mentang-mentang ia membawa baju ganti, yaiitu kaos
berlengan pendek, ia melepas seragam dan sepatunya dan memasukkannya kedalam
tas. tasnya sendiri anti air. ia pun bersepeda ria menantang hujan.
"Yipppieee!!!". seru Chayene. ia sangat menikmati kebebasan yang ia
rasakan. kebebasan hakiki yang diberikan Tuhan pada setiap hamba-Nya.
***
Chayene berbelok disebuah gang yang lumayan kecil. mungkin bisa dilewati mobil,
tapi hanyalah sedan. jalanan di gang pun sepi.
hujan kembali deras. dan pasti, orang-orang malas keluar. aih, jangankan
manusia, burung pun mungkin ogah keluar. tapi, ya namanya Chayene, sederas
apapun hujan, tak akan jadi rintangan.
tiba-tiba, Chayene mengerem sepedanya dan meminggirkannya. apa ia mau berteduh?
bukan! dia melihat seekor kucing kecil yang kehujanan di tengah jalan. chayene
turun dari sepedanya dan menghampiri kucing tersebut.
tak jauh dari tempat Chayene, sebuah mobil sedan mewah milik keluarga istana
terpakir. rupanya, mobil itu bannya kempes. didalam mobil itu, ada seorang
Putra Mahkota berwajah dingin bersama asisten pribadinya sedang menunggu
supirnya mengganti ban.
'' Apa Yang Mulia ingin sesuatu?". tanya asistennnya.
"apa kau tidak lihat, aku sedang kehausan?". bentak Putra Mahkota.
"maafkan hamba, Ynag Mulia". ucap asistennya ketakutan.
"ah, sudahlah!". tukas Putra Mahkota. "sana, belikan aku minu dan
cemilan! cepat!". asistennya hanya menggangguk. dg cepat, asisten itu
mengambil payung dan keluar.
"dasar tidak berguna". umpat Putra Mahkota dingin.
Putra Mahkota merasa jenuh berada di
mobil. ia menegdarkan pandangannya ke kaca mobil depan. tak sengaja, matanya
menangkap sosok Chayene yang sedang mengelus-elus anak kucing yang ekhujanan
'' Apa yang dilakukan gadis itu?". tanya Putra
Mahkota. "apa gadis itu gila? hujan-hujanan di tengah jalan?".
sekilas, terbit senyum Putra Mahkota yang telah lama membeku.
tak lama kemudian, sebuah truk melaju dari arah
belakan Chayene. mungkin karena terlalu asyiek, Chayene tdk mendengarnya. dan
jelas, Putra Mahkota terkejut melihat seorang gadis hujan-hujanan yang akan
tertabrak dan tidak segera menyingkir. tanpa pikir panjang, Putra Mahkota
segera keluar tanpa payung.
***
"kamu kasihan sekali!" ucap Chayene.
"pasti kedinginan". chayene masih tidak tahu kalua ada truk
dibelakangnya.
"awass!!!!!". seru Putra Mahkota. entah
mengapa, Chayene malah mendengar suara Putra Mahkota dari pada suara klakson
truk. dan pasti, Chayene menoleh. " ada truk dibelakangmu!". teriak Putra
Mahkota. Chayene terkejut.
waktu serasa lambat. truk semakin mendekati tubuh
Chayene. Chayene yang terkejut tubuhnya pun mematung. untunglah, sang Putra
Mahkota tepat waktu. ia segera menarik Chayene menyingkir.
"hah..hah..hah..". nafas Chayene dan Putra
Mahkota tersenggal-senggal.
"kau tak apa?". tanya Putra Mahkota.
"ya, aku baik-baik saja!". jawab Chayene.
"terima kasih". sesaat sang Putra Mahkota flashback ke masa lalu.
chayene mengingatkannya pada seseorang. seorang gadis yang amat dicintainya dan
hilang entah kemana. dg serta merta, Putra Mahkota memeluk Chayene.
"ah!".
***
"um.. maaf". ucap Chayene. "Jika kau
terus memelukku, anak kucing ini tak akan bisa bernafas". PM tersentak.
buru-buru ia melepas pelukannya.
PM teringat apa yang baru saja terjadi. secepat
kilat berlari, ia mendelik ke arah Chayene. "apa yang kau lakukan tadi?
kau mau mati?". tanya PM. Chayene hanya tersenyum. "aku hanya
menyelamatkan anak kucing ini". jawab Chayene sambil mengangkat anak
kucing yg ia pegang. "lagi pula, sipa yang mau mati? mau hidup ajha
susah!".
"dasar kau ini! menyelamatkan kucing tapi
melupakan diri sendiri".
"kan kasihan". Chayene semakin tinggi
mengangkat anak kucingnya.
"singkirkan mahluk berbulu ini!".
perintah PM kesal. Chayene tertawa. ia menurunkan kucingnya.
"hewan ini namanya kucing! bukan makhluk
berbulu!". goda Chayene.
5 detik kemudian, PM sadar bahwa jas mahalnya basah
karena hujan.
"Argggghhhh!". teriaknya. "lihat apa
yang kau lakukan?".
" hello! please, nggak pakai teriak bisa
kan?". balas Chayene. "lihat apa?".
"aku basah kuyup!". jawab PM marah.
"iya aku tahu! lalu kenapa?"
"beraninya kau padaku! apa kau tak tahu, kalau
aku Putra Mahkota?".
"tahu!".
kau ini....! apa kau mau tanggung jawab jika aku
sakit? lalu bagaimana rapatku besok dengan para menteri, para DPR, lalu acara
penyambutan Pangeran Franklin? lalu...".
uacapan PM terputus karena ia ditarik Chayene
berteduh.
"sudah kan? kau tak kehujanan lagi kan?".
tanya Chayene.
"tapi aku masih kedinginan!!!!" jawab PM
geram. "bagaimana law aku sakit? lau rapatku...". bukk!!. ucapan Pm
terputus saat sebuah sweater hangat mendarat ditubuhnya.
"pakailah itu!". suruh Chayene.
"aku baru tahu, ternyata putra mahkota itu
sangat cerewet!". sindir Chayene pada PM yang telah selesai memakai
sweater hangatnya. jelas, PM sangat geram.
"apa maksudmu?". tanya PM.
"bukankah kau anak SMA? tapi mengapa kau tak
mengerti maksudku? apa kau tak lulus SMP?". tanya Chayene balik.
"jika bukan karena kau telah meminjamiku
sweater ini, aku pasti sudah memenjarakanmu!".
"heh, dasar! setahuku, keluarga kerajaan tidak
boleh mencampuri urusan politik kecuali Putri Mahkota deh?". tukas
Chayene. PM mendelik sebal ke arah Chayene.
"apa?". tanya Chayene. PM hanya membuang
muka.
mereka berdua menunggu hujan reda bersama. suasana
diantara mereka berdua dingin sedingin hujan.
"padahal, seharusnya seorang laki-laki yang
memberikan jaketnya pada perempuan saat hujan". ucap PM dingin. dukk!!.
sebuah tinju mendarat di kepala PM.
"Awwww!!". erang PM. ia memegangi
kepalanya yang sakit. "beraninya kau!". Chayene hanya tersenyum.
"apa maksudmu tersenyum begitu?".
"ya, karna aku pikir kau sedang
tertidur". jawab Chayene.
"apa kau buta? mataku terbuka sedari
tadi!".
"bukannya aku buta tapi, ini dunia nyata putra
mahkota! siapapun boleh melakukannya!".
"tapi tak usah memukul kepalaku!".
"hi..hi...hi...", Chayene tertawa kecil.
lalu, ia melihat nama dada PM yang ada di seragam PM. "baiklah, kak Gen
Yuries Sven". chayene mendongakkan kepalanya lalu tersenyum. "aku
minta maaf!".
amarah PM alias Gen mereda seiring melihat senyum
Chayene. senyum manis itu mirip Putri mahkotanya yg hilang.
"baiklah! permintaan maaf diterima!".
ucap Gen menghilangkan flashbacknya.
"Yang Mulia!". seru asisten Gen yang
membawa payung. jelass, Chayene dan Gen menoleh ke sumber suara.
"dasar orang itu!". umpat Gen.
"kemana saja dia dari tadi?". puk!. Chayene menepuk pundak Gen.
"kakak Gen yng mendapat gelar Putra
Mahkota". ucap Chayene. "hargailah dia! dia sudah mau membawakan
payung untukmu!".
"tapi dia asistenku! itu memang tugasnya!".
balas Gen.
"apakah pantas, seorang calon Raja Allica
tidak menghargai rakyatnya? dia itu rakyatmu!". jelas Chayene.
"Ah baiklah! aku akan menghargai dan
pulang!". tukas Gen kesal. "tunggu sebentar". Gen merogoh
sakunya dan mencari sesuatu. "ah! ini dia!". Gen mengeluarkan sebuah
kalung yang bermata berlian indah namun berbentuk setengah hati.
"ini!". ucap Gen menyerahkan kalun itu pada Chayene.
Chayene mnerimanya dengan ragu. "untuk
apa?". tanya Chayene.
"sebagai ganti sweatermu". jawab Gen.
"aku suka sweater mu. jadi kupikir aku akan memintanya dan menukarnya
dengan kalungku". Chayene tersenyum
"baiklah". jawab Chayene. "tapi,
bukankah ini berpasangan?". Gen hanya memandang langit yang masih hujan.
"tentu kau tahu bukan tentang Putri Mahkota
yang menghilang?". tanya Gen. Chayene mengangguk pelan. "kalung itu
memiliki pasangan sebuah gelang berlian yang berbentuk setengah hati pula.
gelang itu ku berikan pada Putri Mahkota ku yang dulu. dan sekarang gelang itu
menghilang bersamaan dengan hilangnya dirinya". Chayene merasa bersalah
mendengar penjelasan Gen.
"maafkan aku". ucap Chayene. "tapi
setahuku....". Chayene tidak meneruskan pembicaraannya.
"kau tahu apa?". tanya Gen. Chayene
menggeleng.
"ah sudahlah!. lupakan saja". kilah
Chayene. "pergilah, kasihan asistenmu". Gen hanya mengangguk. Gen-pun
beranjak pergi.
"oh ya, aku lupa. siapa namamu?". Tanya
Gen. lagi-lagi, Chayene tersenyum.
"namaku Chayene Clairyne Lavoique. siswi kelas
X Shine Star Senior High School". jawab Chayene.
"ingat Chayene. kau sudah berurusan dengan
Putra Mahkota. hidupmu tak akan tenang". canda Gen. Chayene tertawa kecil.
"kita lihat saja nanti!".
Gen memasuki mobilnya. mobil itu telah melaju pergi
meninggalkan Chayene.
sejenak Chayene terdiam. tangannya masih menggenggam
kalung pemberian Gen. ia meraba saku roknya. ia mengambil sesuatu. sebuah
gelang berlian berbentuk setengah hati.
"apa mereka berpasangan?". Tanya Chayene
sembari memandang kalung dan gelang berlian itu.
senja mulai menyapa. dan senja tak mau beritahu
pada Chayene yang sesungguhnya.
***
* hmmmm, ini karya pertama saya yg saya posting. untuk cerita ini pastinya sequel dan ada lanjutannya ya..... jadi mohon ditunggu. tolong beri masukan dan saya mohon jangan jadi silent reader, okay????
Langganan:
Postingan (Atom)