AMAN IN PLUVIAM#2
DUO: SANG PUTRA MAHKOTA
pagi telah tiba. surya
bersinar dengan hangat mengiringi lembaran baru yang akan tertoreh tinta
kehidupan. dan dimulai pagi inilah, satu persatu rahasia yang telah lama
terpendam di bumi Allica tersingkap.
***
"selamat pagi!". salam Chayene saat
memasuki ruang kelasnya dengan lesu dan pucat.
"pagi!". jawab yang lain. Chayene
melangkahkan kakinya ke mejanya dengan malas.
brukkk!!!. Chayene menjatuhkan dirinya dikursinya.
ia meletakkan kepalanya di atas meja.
"hey, ada apa denganmu?". tanya Ryse,
sahabat Chayene.
"iya, tak biasanya kau lesu. what happen, my
honey?". tanya Karen sedikit menggoda. Chayene hanya tersenyum malas.
"ada 2 maslah". jawab Chayene. "1,
kemarin aku bertemu orang yang cukup menye balkan, kedua, kalian bisa
menyimpulkan sendiri mengapa aku berwajah pucat". Ryse dan karen saling
menatap.
"apa kakakmu kembali mengirimkan sarapan
untukmu?". tanya Ryse. Chayene menganguk.
"seberapa banyak?". tanya Karen.
"setengah mangkuk sup". jawab Chayene.
"aku bingung padamu". ujar Karen.
"bagaimana mungkin setiap kali kau makan paling banyak seperempat piring
atau mangkok? dan jika terlau banyk sedikit saja, kau memuntahkan
makananmu". Chayene hanya mengangkat bahu.
"apa kau tadi memuntahkan makananmu,
Chayene?". tanya Ryse. Chayene hanya mengangguk lemah. Karen dan Ryse
hanya menggeleng.
"eh, apa kalian dengar Putra Mahkota akan
pindah kemari?". tanya Karen mengalihkan topik.
"Yang benar?". tanya Ryse sedikit
khawatir. ia seperti menyimpan sebuah rahasia. sedangkan Chayene tidak
mendengar pembicaraan mereka berdua karna masih merasa lesu.
"hi, Chayene". panggil Karen. Chayene
hanya menoleh. "putra mahkota hari ini pindah kemari!".
"lau, apa hubungannya jika Putra Mahkota
pindah kema...". chayene tidak meneruskan ucapannya. otaknya bekerja. putra
mahkota itu artinya....
"Kaka Gen Yuries Sven pindah kemari????".
tanya Chayene dengan suara yang cukup besar.
"iya, Chayene!". ucap seseorang dari arah
pintu. semuanya terkejut. "Putra Mahkota?". tanay semuanya bersamaan.
"kak Gen? apa yang kakak..."
"bukankah aku sudah bilang, hidupmu tak akan
tenang Chayene!".
***
Benar,
hidup Chayene sangat buruk. Bayangkan, Gen yang begitu disebalinya dan harusnya
duduk di XI A, malah duduk dikelasnya, bahkan sebangku, nempel-nempel, dan
terus mengganggunya. Jelas, guru tidak berani menegur. Siapa yang berani
menegur Putra Mahkota?.
Namun
seprtinya tidak bagi Chayene. Dia sudah diambang batas kesabaran dalam
menghadapi Gen.
“kak Gen!”. Panggil Chayene. “tak
perduli kau ini Putra Mahkota atau apa, aku mohon kembali kekelasmu! Kau sudah
di kelasku dari jam pertama bahkan 15 menit lagi waktunya makan siang! Dan kau
sungguh menyebalkan!”. Gen hanya tersenyum licik.
“aku ini Putra Mahkota! Terserah aku mau
duduk dimana saja dan tidak ada yang melarangku!”. Jawab Gen sombong. Chayene
benar-benar kesal. Kata-kata panah yang ia pendam akhirnya keluar.
“kau ini menyebalkan! Kau
ini Putra Mahkota tapi mengapa sangat menyebalkan? Sombong, manja, dingin, suka
mengusik kehidupan orang, pedendam, tidak menghargai orang lain, bahkan ...”.
Chayene tidak meneruskannya. “intinya, kau sangat MENYEBALKAN!!! Aku, sangat
sebal kepadamu melebihi kesebalanku padadiriku sendiri! Kau sangat aku sebali
dibawah peringkat kerajaan, fatamorgana. Dan hidupku sendiri!!!”.. sontak
semuanya tersentak apalagi Gen yang baru mendapat perlakuan itu untuk kedua
kalinya. Sipa yang pertama? Tentulah gadis yang amat dicintainya dulu.
“tau apa kau soal hidupku? Aku
ini calon Rajamu! Jadi...”. ucapan Gen tersela oleh Chayene.
“aku memang tak tahu
apa-apa soal hidupmu. Aku cukup berterima kasih jika engkau kemarin meberiku
sebuah kalung dan jika kau mau aku akan mengembalikannya kepadamu”. Ucap
Chayene sendu. Seakan ada pisau yang ia pendam dalam-dalam di lubuk hatinya.
Pisau tajam yang membuatnya hatinya terluka terlalu perih. “tapi, kau tak bisa
mengatur hidupku. Kau tahu, betapa bencinya aku pada kerajaan dan kau adalah bagian
dari kerajaan. Apa kau tahu, siapa yang membuatku kehilangan seluruh memoriku?
Aku tak tahu bagaimana ceritanya, tapi sebuah surat dari Istana mengatakan,
bahwa aku harus kehilangan memori dan kebahagiaan semata-mata karena Kerajaan.
Mereka memintaku memaafkan Kerajaan dan bersabar. Akupun bingung atas apa yang
terjadi. Setiap aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kerajaan hanya
bilang, maafkan Allica. Dan mereka mengangkatku sebagai princifilium flus dan
membuatku semakin menderita. Kau benar, aku tak tahu apa-apa tentang hidupmu
selain kemewahan yang kau dapat. Tapi, kau juga tidak tahu betapa besar
penderitaanku selama ini!!!. Aku seprti mayat hidup yang sangat membenci
kehidupan ini!. Apa kau tahu, seluruh senyumku dan ceiaku hanyalah fatamorgana
yang akan berakhir setiap pintu kamar appartemenku tertutup!!!”. Tetes tangis
Chayene terus mengalir deras, lebih deras dari hujan diluar. Yach, entah
mengapa, langit tiba-tiba hujan deras padahal awalnya cerah. Seakan-akan
langitpun menangis karna Chayene.
“apa
yang anda lakukan disini Puta Mahkota?”. Ucap 2 orang laki-laki bersamaan.
Semuanya menoleh ke arah sumber suara. Termasuk Chayene dan Gen.
“kak
Sean? Robert?”. Tanya Chayene.
“apa yang anda lakukan
pada Chayene Putra Mahkota? Mengapa Chayene menangis?”. Tanya Robert khawatir.
Gen hanya menunduk. Sedangkan Chayene mengepalkan tangannya dan pergi keluar.
Ia menubruk kakak dan calon tunangannya yang mematung di depan pintu. Ha?
Robert calon tunangan Chayene? Ah, sudahlah! Kita urus saja dulu Chayene yang
pergi ditengah hujhan deras.
Jelas,
Sean, Robert, Ryse, dan Karen mengejar Chayene keluar. Sedang Gen masih
terhanyut dalam tunduknya.terakhir ia melihat wanita menangis adalah saat malam
terakhir ia melihat gadis itu. Dan kini, ia kembali melihat seorang gadis
kembali menagis perih di depan matanya. Sungguh, saat Chayene menangis tadi
entah mengapa ia tahu betapa sakitnya diri Chayene. Lebih sakit ketimbang rasa
sakitnya selama ini.
“laki-laki macam apa kau
ini Gen?”. Tanya seseorang. Gen tahu betul suara itu. Pemilik suara yang juga
mencinta gadis itu dan sangat membenci Gen saat gadis itu menghilang.
“tau apa kau tentang
kejadian tadi, kak Ren?”. Tantang Gen dingin.
“tak perlu melihat
langsung, aku bisa membaca dari tatapan matamu itu!”. Jawab Ren tak kalah
dinginnya. “mengapa kau selalu membiarka wanita pergi dengan tangis?”.
“dia bukan siapa-siapaku”.
Kilah Gen. “untuk apa mencegahnya?”.
“kau bilang dia bukan
siapa-siapamu?”. Tanya Ren meragukan. “kau tak bisa bohong kepadaku. Kejarlah!”.
Gen tercengang. Ren menyuruh Gen mengejar Chayene?. Jika Ren menyuruhnya
mengejar Chayene, sudah pasti Ren pernah bertemu dengan Chayene!. Jika begitu,
tentu Ren juga tahu kalau dari atas hingga bawah, Chayene sangat mirip dengan
gadis itu. Tidak, tidak sangat mirip. Chayene lebih tepat sepert gadis itu.
Benar-benar gadis itu. Lagipula, mengapa kakaknya menyuruhnya mengejar gadis
yang jelas-jelas sangat mirip dengan gadis itu dan ia juga sangat mencintai
gadis itu? Apakah ini sebuah permainan?
“apa maksudmu?”. Tanya
Gen. Ren hanya membuang muka.
“kejarlah sebelum
terlambat”. Jawab Ren berat. Seakan ada sebuah batu raksasa yang ia panggul.
Namun,
entah mengapa Gen kali ini pergi. Bukan untuk menghindari kakaknya, tapi untuk
mengejar Chayene. Menantang badai yang merintanginya.
“kejarlah
sebelum kau terlambat untuk meraih Jeane kembali, Gen”. Gumam Ren dalam hati.
Sendu mulai menari pilu dalam qolbu laki-laki bermata biru ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar