Senin, 16 Desember 2013

AMAN IN PLUVIAM#2

DUO: SANG PUTRA MAHKOTA
pagi telah tiba. surya bersinar dengan hangat mengiringi lembaran baru yang akan tertoreh tinta kehidupan. dan dimulai pagi inilah, satu persatu rahasia yang telah lama terpendam di bumi Allica tersingkap.
***
"selamat pagi!". salam Chayene saat memasuki ruang kelasnya dengan lesu dan pucat.
"pagi!". jawab yang lain. Chayene melangkahkan kakinya ke mejanya dengan malas.

brukkk!!!. Chayene menjatuhkan dirinya dikursinya. ia meletakkan kepalanya di atas meja.
"hey, ada apa denganmu?". tanya Ryse, sahabat Chayene.
"iya, tak biasanya kau lesu. what happen, my honey?". tanya Karen sedikit menggoda. Chayene hanya tersenyum malas.
"ada 2 maslah". jawab Chayene. "1, kemarin aku bertemu orang yang cukup menye balkan, kedua, kalian bisa menyimpulkan sendiri mengapa aku berwajah pucat". Ryse dan karen saling menatap.
"apa kakakmu kembali mengirimkan sarapan untukmu?". tanya Ryse. Chayene menganguk.
"seberapa banyak?". tanya Karen.
"setengah mangkuk sup". jawab Chayene.
"aku bingung padamu". ujar Karen. "bagaimana mungkin setiap kali kau makan paling banyak seperempat piring atau mangkok? dan jika terlau banyk sedikit saja, kau memuntahkan makananmu". Chayene hanya mengangkat bahu.
"apa kau tadi memuntahkan makananmu, Chayene?". tanya Ryse. Chayene hanya mengangguk lemah. Karen dan Ryse hanya menggeleng.

"eh, apa kalian dengar Putra Mahkota akan pindah kemari?". tanya Karen mengalihkan topik.
"Yang benar?". tanya Ryse sedikit khawatir. ia seperti menyimpan sebuah rahasia. sedangkan Chayene tidak mendengar pembicaraan mereka berdua karna masih merasa lesu.
"hi, Chayene". panggil Karen. Chayene hanya menoleh. "putra mahkota hari ini pindah kemari!".
"lau, apa hubungannya jika Putra Mahkota pindah kema...". chayene tidak meneruskan ucapannya. otaknya bekerja. putra mahkota itu artinya....
"Kaka Gen Yuries Sven pindah kemari????". tanya Chayene dengan suara yang cukup besar.
"iya, Chayene!". ucap seseorang dari arah pintu. semuanya terkejut. "Putra Mahkota?". tanay semuanya bersamaan.
"kak Gen? apa yang kakak..."
"bukankah aku sudah bilang, hidupmu tak akan tenang Chayene!".
***
                Benar, hidup Chayene sangat buruk. Bayangkan, Gen yang begitu disebalinya dan harusnya duduk di XI A, malah duduk dikelasnya, bahkan sebangku, nempel-nempel, dan terus mengganggunya. Jelas, guru tidak berani menegur. Siapa yang berani menegur Putra Mahkota?.
                Namun seprtinya tidak bagi Chayene. Dia sudah diambang batas kesabaran dalam menghadapi Gen.
        “kak Gen!”. Panggil Chayene. “tak perduli kau ini Putra Mahkota atau apa, aku mohon kembali kekelasmu! Kau sudah di kelasku dari jam pertama bahkan 15 menit lagi waktunya makan siang! Dan kau sungguh menyebalkan!”. Gen hanya tersenyum licik.
          “aku ini Putra Mahkota! Terserah aku mau duduk dimana saja dan tidak ada yang melarangku!”. Jawab Gen sombong. Chayene benar-benar kesal. Kata-kata panah yang ia pendam akhirnya keluar.
             “kau ini menyebalkan! Kau ini Putra Mahkota tapi mengapa sangat menyebalkan? Sombong, manja, dingin, suka mengusik kehidupan orang, pedendam, tidak menghargai orang lain, bahkan ...”. Chayene tidak meneruskannya. “intinya, kau sangat MENYEBALKAN!!! Aku, sangat sebal kepadamu melebihi kesebalanku padadiriku sendiri! Kau sangat aku sebali dibawah peringkat kerajaan, fatamorgana. Dan hidupku sendiri!!!”.. sontak semuanya tersentak apalagi Gen yang baru mendapat perlakuan itu untuk kedua kalinya. Sipa yang pertama? Tentulah gadis yang amat dicintainya dulu.
                “tau apa kau soal hidupku? Aku ini calon Rajamu! Jadi...”. ucapan Gen tersela oleh Chayene.
                “aku memang tak tahu apa-apa soal hidupmu. Aku cukup berterima kasih jika engkau kemarin meberiku sebuah kalung dan jika kau mau aku akan mengembalikannya kepadamu”. Ucap Chayene sendu. Seakan ada pisau yang ia pendam dalam-dalam di lubuk hatinya. Pisau tajam yang membuatnya hatinya terluka terlalu perih. “tapi, kau tak bisa mengatur hidupku. Kau tahu, betapa bencinya aku pada kerajaan dan kau adalah bagian dari kerajaan. Apa kau tahu, siapa yang membuatku kehilangan seluruh memoriku? Aku tak tahu bagaimana ceritanya, tapi sebuah surat dari Istana mengatakan, bahwa aku harus kehilangan memori dan kebahagiaan semata-mata karena Kerajaan. Mereka memintaku memaafkan Kerajaan dan bersabar. Akupun bingung atas apa yang terjadi. Setiap aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kerajaan hanya bilang, maafkan Allica. Dan mereka mengangkatku sebagai princifilium flus dan membuatku semakin menderita. Kau benar, aku tak tahu apa-apa tentang hidupmu selain kemewahan yang kau dapat. Tapi, kau juga tidak tahu betapa besar penderitaanku selama ini!!!. Aku seprti mayat hidup yang sangat membenci kehidupan ini!. Apa kau tahu, seluruh senyumku dan ceiaku hanyalah fatamorgana yang akan berakhir setiap pintu kamar appartemenku tertutup!!!”. Tetes tangis Chayene terus mengalir deras, lebih deras dari hujan diluar. Yach, entah mengapa, langit tiba-tiba hujan deras padahal awalnya cerah. Seakan-akan langitpun menangis karna Chayene.
                “apa yang anda lakukan disini Puta Mahkota?”. Ucap 2 orang laki-laki bersamaan. Semuanya menoleh ke arah sumber suara. Termasuk Chayene dan Gen.
                “kak Sean? Robert?”. Tanya Chayene.
                “apa yang anda lakukan pada Chayene Putra Mahkota? Mengapa Chayene menangis?”. Tanya Robert khawatir. Gen hanya menunduk. Sedangkan Chayene mengepalkan tangannya dan pergi keluar. Ia menubruk kakak dan calon tunangannya yang mematung di depan pintu. Ha? Robert calon tunangan Chayene? Ah, sudahlah! Kita urus saja dulu Chayene yang pergi ditengah hujhan deras.
                Jelas, Sean, Robert, Ryse, dan Karen mengejar Chayene keluar. Sedang Gen masih terhanyut dalam tunduknya.terakhir ia melihat wanita menangis adalah saat malam terakhir ia melihat gadis itu. Dan kini, ia kembali melihat seorang gadis kembali menagis perih di depan matanya. Sungguh, saat Chayene menangis tadi entah mengapa ia tahu betapa sakitnya diri Chayene. Lebih sakit ketimbang rasa sakitnya selama ini.
                “laki-laki macam apa kau ini Gen?”. Tanya seseorang. Gen tahu betul suara itu. Pemilik suara yang juga mencinta gadis itu dan sangat membenci Gen saat gadis itu menghilang.
                “tau apa kau tentang kejadian tadi, kak Ren?”. Tantang Gen dingin.
                “tak perlu melihat langsung, aku bisa membaca dari tatapan matamu itu!”. Jawab Ren tak kalah dinginnya. “mengapa kau selalu membiarka wanita pergi dengan tangis?”. 
                “dia bukan siapa-siapaku”. Kilah Gen. “untuk apa mencegahnya?”.
                “kau bilang dia bukan siapa-siapamu?”. Tanya Ren meragukan. “kau tak bisa bohong kepadaku. Kejarlah!”. Gen tercengang. Ren menyuruh Gen mengejar Chayene?. Jika Ren menyuruhnya mengejar Chayene, sudah pasti Ren pernah bertemu dengan Chayene!. Jika begitu, tentu Ren juga tahu kalau dari atas hingga bawah, Chayene sangat mirip dengan gadis itu. Tidak, tidak sangat mirip. Chayene lebih tepat sepert gadis itu. Benar-benar gadis itu. Lagipula, mengapa kakaknya menyuruhnya mengejar gadis yang jelas-jelas sangat mirip dengan gadis itu dan ia juga sangat mencintai gadis itu? Apakah ini sebuah permainan?
                “apa maksudmu?”. Tanya Gen. Ren hanya membuang muka.
                “kejarlah sebelum terlambat”. Jawab Ren berat. Seakan ada sebuah batu raksasa yang ia panggul.
                Namun, entah mengapa Gen kali ini pergi. Bukan untuk menghindari kakaknya, tapi untuk mengejar Chayene. Menantang badai yang merintanginya.
                “kejarlah sebelum kau terlambat untuk meraih Jeane kembali, Gen”. Gumam Ren dalam hati. Sendu mulai menari pilu dalam qolbu laki-laki bermata biru ini.
 
 
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar